CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Selasa, 01 April 2008

Chlamydia is a common term for Chlamydiae. This term derives from the name of the bacterial genus Chlamydia in the family Chlamydiaceae, order Chlamydiales, class and phylum Chlamydiae, ultimately from Greek χλαμύδος "cloak". There are two genera in Chlamydiaceae: Chlamydia and Chlamydophila. The genus Chlamydia includes three species: C. trachomatis, C. muridarum, and C. suis. C. trachomatis infection is described below.

Chlamydia trachomatis is a major infectious cause of human eye and genital disease. C. trachomatis is naturally found living only inside human cells and is one of the most common sexually transmitted infections in people worldwide — about four million cases of chlamydia infection occur in the United States each year. Not all infected people exhibit symptoms of infection. About half of all men and three-quarters of all women who have chlamydia have no symptoms and do not know that they are infected. It can be serious but is easily cured with antibiotics if detected in time. Equally important, chlamydia infection of the eye is the most common cause of preventable blindness in the world. Blindness occurs as a complication of trachoma (chlamydia conjunctivitis).[1]

There are many other species of Chlamydiae that live in the cells of animals (including humans), insects, or protozoa. Two of these species cause lung infection in humans: Chlamydophila pneumoniae and Chlamydophila psittaci. Both of these species previously belonged to the genus Chlamydia.



Yulia D. (40)

Badak Jawa

BADAK JAWA sebagai Hewan Endemik di Indonesia

Penelitian pertama badak Jawa dilakukan oleh penyelidik alam dari luar daerah tersebut pada tahun 1787, ketika dua binatang ditembak di Jawa. Tulang badak Jawa dikirim pada penyelidik alam Belanda Petrus Camper, yang meninggal tahun 1789 sebelum sempat menerbitkan penemuannya bahwa badak Jawa adalah spesies istimewa. Badak Jawa lainnya ditembak di pulau Sumatra oleh Alfred Duvaucel yang mengirim spesimennya ke ayah tirinya, Georges Cuvier, ilmuwan Perancis yang terkenal. Cuvier menyadari binatang ini sebagai spesies istimewa tahun 1822, dan pada tahun yang sama diidentifikasi oleh Anselme Gaëtan Desmarest sebagai Rhinoceros sondaicus. Spesies ini adalah spesies badak terakhir yang diidentifikasi.[7] Desmarest pada awalnya mengidentifikasi badak ini berasal dari Jawa, tetapi nantinya mengubahnya dan mengatakan spesimennya berasal dari pulau Jawa.[2]

Nama genusnya Rhinoceros, yang didalamnya juga terdapat badak India, berasal dari bahasa Yunani: rhino berarti hidung, dan ceros berarti tanduk; sondaicus berasal dari kata Sunda, daerah yang meliputi pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan kepulauan kecil disekitarnya. Badak Jawa juga disebut badak bercula-satu kecil (sebagai perbedaan dengan badak bercula-satu besar, nama lain badak India).

Badak India berhubungan dekat dengan badak Jawa; mereka adalah dua anggota tipe genus badak. Leluhur badak pertama kali terbagi dari Perissodactyl lainnya pada masa Eosen awal. Perbandingan DNA mitokondria memberikan kesan bahwa leluhur badak modern terbagi dari leluhur Equidae sekitar 50 juta tahun yang lalu.[14] Famili yang masih ada, Rhinocerotidae, pertama kali muncul pada Eosen akhir di Eurasia, dan leluhur spesies badak modern terbagi dari Asia pada awal Miosen.[15]

Badak Jawa lebih kecil daripada sepupunya, badak India, dan memiliki besar tubuh yang dekat dengan badak Hitam. Panjang tubuh badak Jawa (termasuk kepalanya) dapat lebih dari 3,1–3,2 m dan mencapai tinggi 1,4–1,7 m. Badak dewasa dilaporkan memiliki massa antara 900 dan 2.300 kilogram. Penelitian untuk mengumpulkan pengukuran akurat badak Jawa tidak pernah dilakukan dan bukan prioritas.[4] Tidak terdapat perbedaan besar antara jenis kelamin, tetapi badak Jawa betina ukuran tubuhnya dapat lebih besar. Badak di Vietnam lebih kecil daripada di Jawa berdasarkan penelitian bukti melalui foto dan pengukuran jejak kaki mereka..[18]

Faktor utama berkurangnya populasi badak Jawa adalah perburuan untuk culanya, masalah yang juga menyerang semua spesies badak. Cula badak menjadi komoditas perdagangan di Tiongkok selama 2.000 tahun yang digunakan sebagai obat untuk pengobatan tradisional Tiongkok. Secara historis kulitnya digunakan untuk membuat baju baja tentara Tiongkok dan suku lokal di Vietnam percaya bahwa kulitnya dapat digunakan sebagai penangkal racun untuk bisa ular.[26] Karena tempat hidup badak mencakupi banyak daerah kemiskinan, sulit untuk penduduk tidak membunuh binatang ini yang dapat dijual dengan harga tinggi.[22] Ketika Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora pertama kali diberlakukan tahun 1975, badak Jawa dimasukan kedalam perlindungan Appendix 1: semua perdagangan internasional produk badak Jawa dianggap ilegal.[27] Survey pasar gelap cula badak telah menentukan bahwa badak Asia memiliki harga sebesar $30.000 per kilogram, tiga kali harga cula badak Afrika.[4]

Tugas BIOLOGI - Niko Fulung (27

KURA KURA Sebagai Hewan Endemik di Indonesia

Kura-kura adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 225 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m.Ekologi dan habitat
Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor kura-kura. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor kura-kura betina, paling banyak hanya belasan tukik yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik (anak kura-kura) tersebut menyentuh perairan dalam.Konservasi
Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.

(Tugas BIOLOGI "Hewan Endemik" - Galih Dwi (16) -)

Langkah Penanganan Kebakaran Lahan Gambut

Kebakaran gambut dapat di tanggulangi dengan beberapa langkah – langkah baik dalam lingkup mikro ataupun makro. Diantaranya :

a. Lembaga bantuan dana Jepang (JICA) belum menetapkan alokasi bantuan dana yang akan dgulirkan untuk program pencegahan dan penanggulangan kebkaran hutan untuk tiga Provinsi di Indonesia, yakni Jambi, Riau, dan Kalimantan barat.

b. Proyek pembangunan yang membantu masyarakat total

c. Konservasi lahan tersebut dalam keadaan alaminya karena (setelah terbakar) mereka tak dapat di rehabilitasi & kondisi alaminya yang “Tahan Api” tidak dpat diciptakan kembali.

d. Kerja sama antara Indonesia dengan PBB ini sangat penting karena data yang akurat dan lengkap akan memperbaiki perhitungan dan prediksi pengaruh perubahan iklim, kebakaran, perubahan tata lahan terhadap cadangan karbon saat ini dan masa dating. Kerja sama ini juga bertujuan menghasilkan keputusan yang benar bagi pengambil keputusan dan memperoleh bantuan pembiayaan yang disepakati dalam CDM.

Pengelolaan Lahan Gambut di Kalimantan

a. Pengelolaan Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:

1. Menentukan Hirarki atau Prioritas Kegiatan.

2. Menentukan Masa Depan Jaringan Kanal Yang Terlanjur Dibangun

3. Menentukan Kriteria Minimal Konsolidasi dan Pengkajian

Faktor-faktor pembatas itu adalah:
a. Ketebalan lapisan gambut
b. Ketebalan/kedalamam lapisan pirit
c. Status permukaan air tanah (hidrometri)
d. Status vegetasi atau penutup lahan
e. Sifat-sifat istimewa atau habitat khusus yang perlu dilindungi.

4. Kebijaksanaan Pemberdayaan

5. Kebijaksanaan Tata Ruang
. Untuk itu, WWF-Indonesia menghimbau pihak pemerintah, swasta dan masyarakat luas untuk bersama-sama berbuat mencegah kejadian kebakaran hutan dan lahan terutama:
· Pembukaan lahan gambut harus dihentikan dan semua lahan gambut harus dilindungi dan dikelola secara seksama dengan memperhatikan tata hidrologi secara makro dan potensi lepasnya emisi karbon ke atmosfer.
· Sektor swasta harus menerapkan praktek pengelolaan lestari dan bertanggung jawab, termasuk meniadakan pembakaran lahan dan melindungi daerah-daerah yang memiliki keanekaragaman hayati di sekitar konsesi mereka.
· Harus ada mekanisme terpadu untuk mengkoordinasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, mensinergikan dan menerapkan peraturan terutama terkait perlindungan lingkungan.
· Masyarakat setempat harus diberdayakan oleh pemerintah dan sektor swasta dalam pengelolaan lahan yang lestari, terutama membantu petani/pekebun skala kecil dalam proses transfer ilmu dan teknologi untuk menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar.

Senin, 31 Maret 2008




Hi !!!
We are EFORBIAn
Do you want to know about anything for education?
Please, look at this blogger.

Euphorbia

The spurges make up Euphorbia, a very diverse genus of plants, belonging to the spurge family (Euphorbiaceae). Consisting of about 2160 species, spurges are one of the largest genera in the plant kingdom. The genus is primarily found in the tropical and subtropical regions of Africa and the Americas, but also in temperate zones worldwide. Succulent species originate mostly from Africa, the Americas and Madagascar. There exists a wide range of insular species, namely on the Hawaiian Islands where spurges are collectively known as ʻakoko[verification needed]
The common name "spurge" derives from the Middle English/Old French espurge ("to purge"), due to the use of the plants sap as a purgative.
The botanical name Euphorbia derives from Euphorbus, the Greek physician of king Juba II of Numidia (52-50 BC - 23 AD). He is reported to have used a certain plant, possibly Resin Spurge (E. resinifera), as a herbal remedy when the king suffered from a swollen belly[verification needed]. Carolus Linnaeus assigned the name Euphorbia to the entire genus in the physician's honor[1].
Juba II himself was a noted patron of the arts and sciences and sponsored several expeditions and biological research. He also was a notable author, writing several scholarly and popular scientific works such as treatises on natural history or a best-selling traveller's guide to Arabia. Euphorbia regisjubae (King Juba's Euphorbia) was named to honor the king's contributions to natural history and his role in bringing the genus to notice.

Cendrawasih Biru

Status konservasi
Rentan
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
Paradisaea
Spesies:
P. rudolphi
Nama binomial
Paradisaea rudolphi(Finsch, 1885)

A. Definisi Morfologi Umum
Cendrawasih Biru atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea rudolphi adalah sejenis burung cendrawasih berukuran sedang, dengan panjang sekitar 30 cm, dari genus Paradisaea.

B. Anatomi Morfologi
Dengan ciri-ciri umum:
¨ Burung ini berwarna hitam dan biru,
¨ Berparuh putih kebiruan,
¨ Kaki abu-abu,
¨ Iris mata berwarna coklat tua,
¨ Di sekitar mata terdapat dua buah setengah lingkaran putih dan
¨ Sayap berwarna biru terang.

Ciri-ciri burung jantan dewasa :
¨ Memiliki bulu-bulu jumbai hiasan pada sisi dada yang berwarna biru keunguan jika dilihat dari bawah dan berwarna coklat kemerahan jika dilihat dari atas.
¨ Pada bagian dadanya terdapat lingkaran oval hitam dengan tepi berwarna merah.
¨ Diekornya terdapat dua buah tali panjang berwarna hitam dengan ujung membulat berwarna biru.


Ciri-ciri burung betinanya:
¨ Berukuran lebih kecil,
¨ Tanpa dihiasi bulu hiasan dan
¨ Tubuh bagian bawah berwarna coklat kemerahan.
C. Daerah Persebaran
Daerah sebaran Cendrawasih Biru terdapat di hutan-hutan pegunungan Papua Nugini bagian timur dan tenggara, umumnya dari ketinggian 1.400 meter sampai ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut.

D. Perkembangbiakan
Cendrawasih Biru adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Tidak seperti burung cendrawasih Paradisaea lainnya, Cendrawasih Biru jantan melakukan tariannya tidak dalam kelompok. Jantan menggantungkan badannya ke bawah, membuka memamerkan bulu hiasannya seperti kipas biru sambil berkicau dengan suara menyerupai dengungan rendah. Didekatnya terdapat seekor betina. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain.

E. Ekologi Sifat dan Sejarah Hidup
Cendrawasih Biru ditemukan oleh Carl Hunstein dalam salah satu ekspedisinya di pulau Irian pada tahun 1884. Nama ilmiah spesies langka ini memperingati seorang putra mahkota dari Austria bernama Rudolf von Österreich-Ungarn. Pakan burung Cendrawasih Biru terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

F. Konservasi / Pelestarian
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Biru dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix II dan dilindungi oleh hukum di Papua Nugini.





Cendrawasih elok

Status konservasi
Rentan
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
Macgregoria
Spesies:
M. pulchra
Nama binomial
Macgregoria pulchraDe Vis, 1897
A. Definisi dan Morfologi Umum
Cendrawasih elok adalah sejenis burung khas daerah Papua, Indonesia. Panjangnya sekitar 39 cm

B. Anatomi Morfologi
Dengan cirri-ciri umum:
¨ Spesies ini mirip gagak dengan gelambir mata kuning mencolok, dan
¨ Bercak oker terang di sayap yang mencolok ketika terbang, serta
¨ Bersuara terus-menerus (deskripsi suara: dua nada penghubung jeet jeet diulang cepat; juga peer diulang).

C. Daerah Persebaran
Terpencar di daerah tertinggi Peg. Jayawijaya dan Peg. Star dan di Tenggara, pada ketinggian 3200-3500 m (jarang 2700-4000 m). Tidak ada di Dataran Tinggi Tengah dan Timur. Habitat aslinya di Hutan Subalpin

D. Perkembangbiakan
Spesies ini biasanya berpasangan, mudah ditemukan berdasarkan suaranya yang terus-menerus, bertengger di belukan pepohonan di tepi hutan, makan buah, monogami.

Cendrawasih Kaisar

Status konservasi
Hampir terancam
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
Paradisaea
Spesies:
P. guilielmi
Nama binomial
Paradisaea guilielmiCabanis, 1888

A. Definisi dan Morfologi Umum
Cendrawasih Kaisar atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea guilielmi adalah sejenis burung cendrawasih berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33cm, dari genus Paradisaea.

B. Anatomi Morfologi
Dengan cirri-ciri:
¨ Burung ini berwarna kuning dan coklat,
¨ Berparuh abu-abu kebiruan,
¨ Kaki coklat keunguan, dan
¨ Iris mata berwarna coklat kemerahan.

Ciri-ciri burung jantan dewasa:
¨ Memiliki muka,
¨ Atas kepala bagian depan dan tenggorokan berwarna hijau mengilap.
¨ Kepala bagian belakang, punggung dan sayap berwarna kuning,
¨ Dan tubuh bagian bawahnya berwarna coklat.
¨ Pada bagian sisi dadanya terdapat bulu-bulu hiasan berwarna putih, dan
¨ Diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berwarna hitam.


Ciri-ciri burung betinanya:
¨ Berukuran lebih kecil,
¨ Tanpa dihiasi bulu hiasan,
¨ Memiliki kepala berwarna coklat tua,
¨ Punggung kuning kecoklatan, dan
¨ Tubuh bagian bawah berwarna coklat.
¨ Burung muda memiliki bulu seperti burung betina.
C. Daerah Persebaran
Daerah sebaran Cendrawasih Kaisar terdapat di hutan-hutan pegunungan bagian bawah dan perbukitan Jasirah Huon di Papua Nugini, umumnya dari ketinggian 670 meter sampai ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut.

D. Perkembangbiakan
Cendrawasih Kaisar adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian di dalam kelompok lek. Jantan menggantungkan badannya ke bawah, membuka memamerkan bulu hiasannya. Pakan burung Cendrawasih Kaisar terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

E. Ekologi Sifat dan Sejarah Hidup
Cendrawasih Kaisar ditemukan oleh Carl Hunstein dalam salah satu ekspedisinya di pulau Irian pada bulan Januari 1884. Nama ilmiah spesies ini memperingati seorang kaisar Jerman, Frederick William Albert Victor.

F. Konservasi / Pelestarian
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Kaisar dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Cendrawasih Kuning-kecil

Status konservasi
Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
Paradisaea
Spesies:
P. minor
Nama binomial
Paradisaea minorShaw, 1809
A. Definisi dan Morfologi Umum
Cendrawasih Kuning-kecil atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea minor adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 32cm.

B. Anatomi Morfologi
Dengan cirri-ciri umum:
¨ Burung ini berwarna kuning dan coklat,
¨ Berparuh abu-abu kebiruan, dan
¨ Mmempunyai iris mata berwarna kuning.

Ciri-ciri burung jantan dewasa:
¨ Memiliki bulu di sekitar leher berwarna hijau zamrud mengkilap,
¨ Pada bagian sisi perut terdapat bulu-bulu hiasan yang panjang berwarna dasar kuning dan putih pada bagian luarnya.
¨ Di ekornya terdapat dua buah tali ekor berwarna hitam.

Ciri-ciri burung betinanya:
¨ Berukuran lebih kecil dari burung jantan,
¨ Memiliki kepala berwarna coklat tua,
¨ Dada berwarna putih dan tanpa dihiasi bulu-bulu hiasan.

C. Daerah Persebaran
Populasi Cendrawasih Kuning-kecil tersebar di hutan Irian Jaya dan Papua Nugini. Burung ini juga ditemukan di pulau Misool, provinsi Irian Jaya Barat dan di pulau Yapen, provinsi Papua.

D. Perkembangbiakan
Cendrawasih Kuning-kecil adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Kuning-kecil terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.
E. Konservasi / Pelestarian
Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Cendrawasih Kuning-kecil dievaluasikan sebagai Beresiko Rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Cendrawasih Mati-kawat

Status konservasi
Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
SeleucidisLesson, 1835
Spesies:
S. melanoleucus
Nama binomial
Seleucidis melanoleucusDaudin, 1800
A. Definisi dan Morfologi Umum
Cendrawasih Mati-kawat atau dalam nama ilmiahnya Seleucidis melanoleucus adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33cm, dari genus tunggal Seleucidis.

B. Anatomi Morofologi
Ciri-ciri burung jantan dewasa :
¨ Mempunyai bulu berwarna hitam mengilap,
¨ Pada bagian sisi perutnya dihiasi bulu-bulu berwarna kuning dan duabelas kawat berwarna hitam.
¨ Burung ini berparuh panjang lancip berwarna hitamI
¨ ris mata berwarna merah.

Ciri-ciri burung betinanya:
¨ Berwarna coklat,
¨ Berukuran lebih kecil dari burung jantan ,dan
¨ Tanpa dihiasi bulu-bulu berwarna kuning ataupun keduabelas kawat di sisi perutnya.

C. Daerah Persebaran
Cendrawasih Mati-kawat ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Irian.

D. Perkembangbiakn
Seperti kebanyakan spesies burung lainnya di suku Paradisaeidae, Cendrawasih Mati-kawat adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan menggunakan keduabelas kawat pada ritual tariannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Mati-kawat terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

E. Konservasi / Pelestarian
Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Cendrawasih Mati-kawat dievaluasikan sebagai Beresiko Rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Cendrawasih Merah

Status konservasi
Hampir terancam
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Aves
Ordo:
Passeriformes
Famili:
Paradisaeidae
Genus:
Paradisaea
Spesies:
P. rubra
Nama binomial
Paradisaea rubraDaudin, 1800
A. Definisi dan Morfologi Umum
Cendrawasih Merah atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea rubra adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33cm, dari marga Paradisaea.

B. Anatomi Morfologi
Dengan cirri-ciri umum:
¨ Burung ini berwarna kuning dan coklat, dan
¨ Berparuh kuning.

Ciri-ciri burung jantan dewasa:
¨ Berukuran sekitar 72cm yang termasuk bulu-bulu hiasan berwarna merah darah dengan ujung berwarna putih pada bagian sisi perutnya,
¨ Bulu muka berwarna hijau zamrud gelap dan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam.

Ciri-ciri burung betinanya:
¨ Berukuran lebih kecil dari burung jantan,
¨ Dengan muka berwarna coklat tua dan tidak punya bulu-bulu hiasan.



C. Daerah Persebaranya
Endemik Indonesia, Cendrawasih Merah hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Irian Jaya Barat.


D. Perkembangkiakan
Cendrawasih Merah adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Merah terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

E. Konservasi / Pelestarian
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Merah dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.